Oleh: ardiansyah | Juli 8, 2010

POTENSI DAN SEBARAN SUMBER DAYA ALAM SERTA ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN PERTANIAN DI PULAU PAPUA

  1. I. PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang

Pulau Papua terdiri dari 2 administrasi provinsi, yakni Provinsi Papua dan Papua Barat. Pulau Papua secara umum merupakan pulau yang kaya akan sumber daya alamnya. Salah satu yang paling nyata terlihat adalah pada sektor pertambangannya, Sektor pertambangan tersebut mampu menyumbang PDRB yang cukup besar bagi sebagian penduduk di Pulau Papua dan juga secara nasional. Tingginya sumbangan PDRB dari pertambangan ini akibat pengaruh dari geologi dan fisik wilayah. Pulau papua memiliki banyak potensi sumber daya alam, salah satunya adalah minyak. Banyaknya cekungan-cekungan secara geologi dapat diestimasikan bahwa terdapat potensi minyak di Pulau Papua. Kemudian tambang tembaga yang hingga saat ini dieksploitasi oleh PT. Freeport. Tak hanya mineral tembaga saja yang terdapat di wilayah Pulau Papua ini, tapi masih banyak mineral-mineral lainnya yang dapat dimanfaatkan jika diekploitasi.

Sektor lain yang sangat penting dikaji adalah mengenai sektor pertanian, hal ini karena pertanian merupakan kebutuhan primer karena terkait akan kebutuhan pangan penduduk di wilayah ini. Secara umum, dari kondisi sumber daya lahan pertanian, sektor pertanian mampu dan cukup menyumbang dalam roda perekonomian penduduk, namun apakah sudah cukup dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk? Sektor pertanian terdiri dari beberapa subsektor, antara lain subsektor hasil dari tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan, perternakan, kehutanan, dan perikanan. Untuk mengetahui apakah lahan pertanian di Pulau Papua mampu atau tidaknya dalam mendukung kebutuhan akan pangan penduduknya, maka dilakukan analisis daya dukung lahan. Analisis daya dukung lahan ini fokus pada hasil komoditas pertanian seperti padi-padian, umbu-umbian, dan kacang-kacangan (hasil pertanian penghasil kalori utama). Analisis daya dukung lahan ini penting dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan lahan pertanian penghasil kalori utama dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduk, dan mengetahui persebarannya secara keruangan serta mengidentifikasi pola perbedaannya.

I.2. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini ádalah untuk mengetahui bagaimana sebaran potensi sumber daya alam baik itu mineral, energi serta sumber daya lahan (dalam konteksnya lahan pertanian). Selain itu, dalam penelitian ini juga dianalisis bagaimana pola daya dukung lahan pertanian penghasil kalori utama serta mengindentifikasi penyebab pola perbedaan yang terjadi.

I.3. Rumusan Masalah

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan dari penelitian ini.

  1. Bagaimana Sebaran Potensi Sumber Daya Alam di Pulau Papua?
  2. Bagaimana pola daya dukung lahan pertanian penghasil kalori utama di Pulau Papua?

I.4. Metode Penelitian

Data-data yang diambil dari peneltian ini sifatnya adalah data sekunder. Data diambil atau bereferensi dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua dan Papua Barat tahun 2006 mengenai kependudukan dan pertanian untuk kebutuhan analisis daya dukung lahan. Sedangkan untuk subtopik persebaran sumber daya alam (mineral dan non-mineral) bereferesi dari literatur.

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan softwere GIS. Data tabular yang bersumber dari BPS kemudian dianalisis secara kuantitaif untuk mendapatkan hasil dari analisis daya dukung lahan dan hasil (output) dituangkan dalam bentuk peta (data spatial)

Analisis yang dilakukan adalah berupa analisis deskriptif peta serta analisis kuantitatif. Analisis deskriptif ini digunakan dalam hal mendeskripsikan mengenai sumber daya alam (mineral maupun non mineral) yang bersumber dari literatur serta peta analisis. Sedangkan analisis kuantitaif digunakan dalam perhitungan dan analisis daya dukung lahan.

  1. II. PEMBAHASAN

II.1. Sumber Daya Alam Provinsi Papua dan Papua Barat

II.1.1. Provinsi Papua

Provinsi ini sangat kaya dengan berbagai potensi sumberdaya alam. Sektor pertambangannya sudah mampu memberikan kontribusi lebih dari 50% perekonomian Papua, dengan tembaga, emas, minyak dan gas menempati posisi dapat memberikan kontribusi ekonomi itu. Di bidang pertambangan, provinsi ini memiliki potensi 2,5 miliar ton batuan biji emas dan tembaga, semuanya terdapat di wilayah konsesi Freeport. Di samping itu, masih terdapat beberapa potensi tambang lain seperti batu bara berjumlah 6,3 juta ton, batu gamping di atas areal seluas 190.000 ha, pasir kuarsa seluas 75 ha dengan potensi hasil 21,5 juta ton, lempung sebanyak 1,2 jura ton, marmer sebanyak 350 juta ton, granit sebanyak 125 juta ton dan hasil tambang lainnya seperti pasir besi, nikel dan krom. Untuk persebaran sumber daya mineral dapat terlihat pada peta persebaran sumber daya mineral di Pulau Papua (peta 6) yang terlampir.

Karena 90% dari daratan Papua adalah hutan, produk unggulan pun banyak lahir dari belantara yang dipadati lebih dari 1.000 spesies tanaman. Lebih dari 150 varientas di hutan itu merupakan tanaman komersial. Hutan di Papua mencapai 3l.079.185,77 ha, terdiri atas hutan konservasi seluas 6.436.923,05 ha (20,71%), hutan lindung 7.475.821,50 ha (24,05%), hutan produksi tetap 8.171606,57 ha (26,3 %), hutan produksi terbatas 1.816.319 ha (5,84%), dan hutan yang dapat dikonversi 6.354.726 ha (20,45%). Ditambah areal penggunaan lainnya 821.787,91 ha (2,64%). Hutan hutan di provinsi ini memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan asli daerah, Contoh, sebanyak 323.987m3, kayu bangunan/timber sebanyak 1.714 m3, kayu balok olahan/block board sebanyak 1.198 m3, triplek/plywood sebanyak 88.050 m3 dan kayu olahan/chips sejumlah 45.289 m3.

Di sektor perkebunan, dari 5.459.225 ha lahan yang ada, tak kurang dari 160.547 ha sudah dimanfaatkan untuk perkebunan rakyat (PR) maupun perkebunan besar (PB), tenaga kerja dengan total produksi 62.153 ton. Komoditas unggulan pada 2005 dengan total produksi 12.347 ton (19,87%), sawit dengan produksi 31.021 ton (49,91%), kakao dengan produksi 11.363 ton (18.28%), kopi Arabic produksi 2.583 ton (4.16%), buah merah dengan produksi 1.889 ton (3,04%) dan karet dengan total produksi 1.458 ton (2,35%). Pada 2005 kayu mencapai 20.711 ton dan Jayapura dengan produksi 2.444 ton pada 2005. produksi sayur mayur selama 2005 hanya mencapai 13,99 ton, menurun dibandingkan dengan 2004 yang mencapai 25,78 ton.

Provinsi ini memiliki lahan sawah beririgasi teknis seluas 3.845 ha pada 2006, beririgasi nonteknis 3.696 ha. Total saluran irigasi primer mencapai 1.984 km, irigasi sekunder 23,45 km sementara irigasi tersier 4,25 km. Sawah-sawah tersebut dapat menghasilkan 61.922 ton padi, meningkat dibanding dua tahun terakhir mencapai 61.750 ton.

Di sektor perikanan, memiliki kekayaan yang kurang besar di sepanjang 1.170 mil garis pantai yang dipenuhi ribuan pulau pulau kecil. Provinsi ini memiliki terumbu karang terkaya dan terbaik di dunia. Hutan bakau terluas dan terbaik di dunia, dengan berbagai jenis ikan mulai dari pelagis besar, kecil, kerapu, udang, teripang, kerang, dan lain lain. Potensi lestari perikanan Papua sebesar 1.404.220 ton per tahun, dengan produksi tahun 2005 mencapai 209.210,3 ton, meningkat 13,29% dibanding produksi 2004 yang hanya mencapai 180.612,4 ton. Dari produksi perikanan, 95,83% merupakan hasil produksi perikanan laut dengan nilai produksi selama 2005 mencapai Rp. 2.215 miliar atau menurun 44,86% banding 2004 yang mencapai Rp 2.451 miliar.

Populasi ternak besar dan kecil selama tahun 2005 umumnya naik. Ternak kerbau pada 2005 naik 14,54% dari 1.131 ekor pada 2004 menjadi 1.292 ekor pada tahun 2006, sementara ternak kuda dari 1.576 ekor pada 2004 menjadi 1.501 ekor pada 2005 lalu meningkat menjadi 2.061 ekor pada 2006. Kenaikan persentase dialami ternak sapi (8,6%), kambing (5,37%) dan babi (19,50%). Populasi ternak kecil, antara lain ini kampung naik 18,99%, ayam pedaging naik 90% dan ayam ras petelur meningkat 19,58%.

II.1.2. Papua Barat

Kehutanan merupakan sektor non migas yang memberikan kontribusi ekonomi terbesar di Papua Barat. Luas hutan dan perairannya adalah 9.769.686,91 ha. Di sektor kehutanan, alokasi fungsi hutan terbagi atas hutan lindung seluas 1.819.267 ha, hutan suaka alam dan pelestarian alam seluas 1.885.323 ha hutan produksi terap seluas 1.435.640 hal hutan produksi terbatas seluas 1.046.529 ha, hutan yang dapat dikonversi seluas 2.500.432 ha dan hutan lainnya seluas 327.909 ha.

Sedangkan lahan non sawah di antaranya ladang/tegalan seluas 340.275 ha, perkebunan seluas 125.135 ha, permukiman seluas 121.403 ha, usaha lain seluas 332.688 ha, danau/telaga seluas 4.531 ha, dan ranah tandus/ranah rusak alias tidak diusahakan seluas 82.197 ha. Pada 2005, di provinsi ini beroperasi 25 perusahaan pemegang IUPHHK/HPH yang berlokasi di delapan kabupaten (Fakfak, Kaimana, Manokwari, Raja Ampat, Sorong, Sorong Selatan, Teluk Bintuni, danTeluk Wondama) dengan dominasi lokasi operasi di Kabupaten Kaimana dan Teluk Bintuni. Total areal pengusahaan hutan (HPH) di provinsi ini pada 2005 seluas 3.545.400 ha. Di bidang Industri primer hasil hutan, di provinsi ini bergerak di perusahaan, Dari jumlah itu, tiga perusahaan beroperasi dengan skala di atas 6.000 m³/tahun dan dengan skala di bawah 6.000 m³/tahun sebanyak 15 perusahaan. Produk kayu olahan yang dihasilkan adalah chip wood, plywood, block board, dan sawmill.

Pada sektor pertanian, tahun 2006 tercatat luas areal panen 9.663 ha, jumlah produksi gabah kering giling 34.157 ton, produksi beras giling 32.497 ton, dengan demikian rata-rata produktivitasnya 3.368 ton/ha. Untuk komoditas jagung tahun 2006 tercatat luas areal panen 4.046 ha dengan jumlah produksi 5.052 ton dan rata-rata produksi 139 ton, Sedangkan untuk komoditas kedelai, pada 2006 tercatat luas areal panen 9.884 ha dengan jumlah produksi 11.811 ton dan rata-rata produksi 12 ton.

Di sektor perikanan dan kelautan, sejak 2005 tengah dibangun pangkalan pendaratan ikan (PPI) di Kabupaten Sorong,Teluk Wondama, dan Kabupaten Raja Ampat. Juga tengah dikembangkan perikanan budidaya seperti budidaya teripang di Kabupaten Teluk Wondama dan Fakfak; budidaya ikan terapu di Kabupaten Sorong; budidaya rimput laut di Kabupaten Raja Ampat; budidaya kepiting di Kabupaten Kaimana dan pengelolaan Terumbu Karang (Coremap II).

Produksi perikanan di provinsi ini berorientasiekspor, mencakup udang,  tuna/cakalang, pelagis, demersal, ikan campur dan hasil olahan. Daerah produksi perikanan laut di provinsi ini adalah Kota Sorong, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten Fakfak, dan Kabupaten Raja Ampat. Nilai ekspor produksi perikanan tahun 2005 sebesar Rp 116.708.593.523,-.

Di sektor peternakan, pada 2006 tercatat populasi sapi potong berjumlah 29.126 ekor, jumlah pemotongan per tahun 30.167 ekor, produksi daging sapi 657 ton/tahun dan rata-rata kepemilikan 4 ekor. Ternak kecil berupa kambing dengan jumlah produksi 18.144 ekor dan jumlah populasi 100,98 ton/tahun dan babi sebanyak 35.977 ekor dengan jumlah produksi 571,96 ton/tahun. Lalu unggas meliputi ayam buras dengan jumlah populasi 534.845 ekor, ayam petelur sebanyak 367.243 ekor/tahun dengan jumlah produksi telur sebanyak 289,67 ton/tahun dan jumlah peternak 35.000 peternak serta rata-rata kepemilikan per peternak 10 ekor/kk, ayam ras pedaging sebanyak 465.765 ekor/tahun dengan jumlah produksi telor sebanyak 33.587 ton/tahun dan jumlah peternak 55.211 peternak serta rata-rata kepemilikan per peternak 80 ekor/kk, itik sebanyak 94.511 ekor/tahun dengan jumlah produksi telur sebanyak 23.251 ton/tahun dan jumlah peternak 409,33 butir/tahun serta rata-rata kepemilikan per peternak 4 ekor/kk.

Sementara itu untuk sektor perkebunan, komoditas unggulannya antara lain kelapa sawit, kakao, kelapa dalam, kopi, pala, cengkeh, jambu mete dan pinang.

Sektor pertambangan, wilayah ini memiliki potensi tambang yang cukup besar, dapat terlihat pada peta potensi batu bara di Pulau Papua (Peta 4) yang terlampir, potensi batu bara terdapat di Kabupaten Manokwari masing-masing terdapat di distrik Horna (besar potensi 4.000.000 ton), Muturi (20.202.000 ton), dan Tembuni (6.240.500 ton). Selain itu, terdapat juga di Kab. Sorong di distrik Aifat (30.000.000 ton), Sorong Timur di Kota Sorong (35.000.000 ton) dan Distrik Salawati dan Seget di Kabupaten Sorong (75.000.000 ton). Selain itu terdapat juga cekungan-cekungan yang mengandung minyak dan diantaranya telah dieksplorasi, dapat terlihat pada peta potensi hidrokarbon (peta 5) yang terlampir.

Selain potensi yang telah disebutkan di atas arah pemerintah Provinsi Papua Barat telah mencoba mengembangkan potensi pertambangannya melalui kebijakan umum bidang pertambangan dan energi dengan titik berat pada bidang minyak dan gas bumi, geologi dan sumber daya mineral, kelistrikan dan pemanfaatan energi serta bidang lingkungan hidup. Dalam tahun anggaran 2005, dilaksanakan beberapa kegiatan di bidang geologi dan air bawah tanah, pembinaan usaha pertambangan umum, serta prasarana kelistrikan dan kegiatan pengembangan dan pemanfaatan energi.

II.2. Analisi Daya Dukung Lahan Pertanian

II.2.1. Sumber Daya Lahan Pertanian di Provinsi Papua dan Papua Barat

Secara umum, Pulau Papua merupakan pulau yang paling jarang penduduknya dibandingkan pulau-pulau besar di Indonesia seperi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sumatera. Jumlah penduduk total di Pulau Papua ini yakni sekitar 2.718.581 jiwa (BPS Provinsi Papua dan Papua Barat tahun 2007). Oleh karena itu, masih sedikit lahan yang dimanfaatkan karena penduduk yang memanfaatkannya masih jarang.

Sektor pertanian merupakan sektor kegiatan usaha yang potensial di provinsi Papua, di mana potensi lahan pertanian dalam arti luas masih tersedia, dan jumlah penduduk yang bergerak di sektor ini cukup banyak. Sektor pertanian di provinsi ini meliputi kegiatan usaha pertanian untuk subsektor tanaman pangan, subsektor perkebunan, subsektor peternakan, subsektor kehutanan, dan subsektor perikanan. Namun untuk tujuan kajian investasi pertanian ini, hanya akan dibahas kondisi empat subsektor, yaitu subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan. Ditinjau dari aspek ketenagakerjaan, kontribusi sektor pertanian masih dominan, karena memiliki porsi terbesar, yakni 73,2 % dari total  tenaga kerja di provinsi , atau sekitar 837 ribu orang, bekerja di sektor pertanian. Dari aspek PDRB (Produk Domestik regional Bruto) sektor pertanian dalam 3 tahun terakhir (2003/2004, 2004/2005, 2005/2006) memberikan kontribusi terbesar, yaitu 39,5%, 36,8%, dan 36,4% (4,55 trilyun rupiah) dari total PDRB Papua tahun 2005/2006 sebesar 12,50 trilyun rupiah. Kontribusi sektor ini jauh melebihi kontribusi dari masing-masing 8 sektor lainnnya. Fakta-fakta ini, meng-indikasikan bahwa sektor pertanian masih tetap menjadi sektor paling strategis dalam struktur perekonomian wilayah provinsi Papua. Sebagai wilayah yang sedang berkembang, sektor primer ini perlu menjadi andalan bagi kehidupan banyak penduduk, sekaligus juga menjadi andalan daerah (BAPPEDA Provinsi Papua, 2006).

Sedangkan di Provinsi Papua Barat, Perkembangan sektor pertanian menjadi lebih penting, disebabkan oleh jumlah penduduk di Papua Barat sebagian besar berusaha di bidang pertanian. Untuk Provinsi Papua barat potensi pertanian didominasi oleh komoditi padi termasuk padi sawah, palawija meliputi jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang panjang. Disusul kemudian dengan komoditi sayur-sayuran yang dapat di kelompokkan dalam 18 jenis yaitu, bawang merah, bawang putih, kentang, kubis, kembang kol, kacang-kacangan, cabe, petsai, wortel, tomat, terung, buncis, ketimun, labu siam, kangkung dan bayam. Sedangkan komoditi buah-buahan terdiri dari alpokat, belimbing, duku, langsat, durian, jambu biji, jambu air, jeruk siam, jeruk besar, mangga, manggis, nangka, nenas, pepaya, pisang, rambutan, salak, sawo, sirsak, markisa, sukun, melinjo dan petai. Gambaran mengenai kondisi pertanian di Provinsi Papua Barat antara lain menyangkut luas lahan yang digunakan, produksi dan  jenis tanaman yang meliputi tanaman padi, dan palawija, sayur-sayuran serta buah-buahan

Tanaman padi merupakan tanaman dengan areal cukup luas dibandingkan dengan komoditi lainnya di Provinsi Papua Barat ini. Sejak tahun 2003 produksi padi sawah dan padi ladang terus mengalami peningkatan.  Luas lahan padi sawah dan padi ladang pada tahun 2003 yakni 6.955 Ha menjadi 6.976 Ha pada tahun 2004 atau meningkat sebesar 0,30 persen, produksi gabah dari tahun 20.545 ton tahun 2003 menjadi 21.598 ton tahun 2004 atau mengalami peningkatan 5,12 persen. Sedangkan pada tahun 2005 luas panen meningkat menjadi 7.823 Ha atau sebesar 12,14 persen, untuk produksi gabahnya juga meningkat menjadi 24.702 ha atau sebesar 14,37 persen.

Untuk tanaman palawija di Provinsi Papua Barat berdasarkan hasil survei Dinas Pertanian Provinsi Papua Barat terdiri atas jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau.  Luas lahan jagung pada tahun 2005 mengalami peningkatan sebesar 51.27 persen, yaitu dari 1.375 Ha pada tahun 2004 menjadi 2.080 Ha pada tahun 2005.  Produksi jagung turut meningkat sebesar 63,88 persen dari produksi 2.024 ton pada tahun 2005 menjadi 3.317 ton pada tahun 2005.  Untuk tanaman ubi kayu juga mengalami peningkatan produksi.

Dari berbagai jenis komoditi tanaman sayur-sayuran, komoditi kacang panjang merupakan komoditi dengan luas panen terluas yaitu 722 ha atau 18,72 persen dari total luas panen komoditi sayur-sayuran, sedangkan komoditi kembang kol merupakan komoditi dengan luas panen terkecil yaitu 12 ha atau 0,30 persen. Komoditi kangkung merupakan komoditi dengan produksi terbanyak yaitu 1.888 ton atau 15,15 persen sedangkan kembang kol merupakan komoditi dengan produksi terkecil yaitu 58 ton atau 0,46 persen dari total produksi komoditi sayuran. Di Provinsi Papua Barat, pisang merupakan jumlah tanaman terbanyak baik itu berdasarkan jumlah pohon maupun total produksi yaitu sebanyak 58.028 pohon atau 22,20 persen dan 9.947 ton atau 34,03 persen dari total tanaman buah-buahan se- Provinsi Papua Barat.

II.2.2. Analisis Daya Dukung Lahan Pertanian Penghasil Kalori utama

Daya dukung lahan adalah kemampuan suatu lahan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia di dalamnya. Analisis daya dukung lahan ini tentunya sangat menarik dikaji di Pulau Papua untuk mengetahui seberapa besar kemampuan lahan pertanian yang menghasilkan kalori utama untuk bisa memenuhi konsumsi penduduk di wilayah tersebut.

Dalam analisis daya dukung lahan ini akan dikaji bagaimana jenis hasil pertanian penghasil kalori utama seperti padi (beras), jagung, kacang kedelai, ubi jalar, ubi kayu, kacang hijau, dan kacang tanah yang dihasilkan dari lahan pertanian penghasil komoditas-komoditas tersebut di wilayah kajian dalam memenuhi kebutuhan kalori penduduk akan jenis komoditas tersebut. Perhitungan daya dukung lahan ini menggunakan rumus daya dukung lahan murni sebagai berikut.

dimana

Dimana :

M    = Jumlah Penduduk yang mampu didukung

K     = Daya Dukung Lahan (jiwa/Ha)

Asi  = Luas Lahan Pertanian jenis komoditas si

Psi        = Produksi hasil pertania jenis komoditas si (ton/tahun)

R   = Kebutuhan kalori rata-rata per orang (kkal/jiwa/tahun)

Csi = Tingkat Konsumsi terhadap jenid komoditas pertanian si (%)

Analisis daya dukung lahan dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Mengumpulkan data luas panen (ha) tanaman-tanaman penghasil kalori utama di wilayah geomer.

2.   Mengumpulkan data-data produksi (ton/ha) tanaman-tanaman penghasil kalori utama di wilayah geomer.

3. Menghitung produksi bruto/produksi kotor (ton) tanaman-tanaman penghasil kalori utama (jagung, padi, umbi-umbian, dan kacang-kacangan).

4. Menghitung produksi netto/produksi bersih (kkal/tahun) tanaman-tanaman peng-hasil kalori utama (jagung, padi, umbi-umbian, dan kacang-kacangan).

5. Menghitung nilai konversi jumlah kalori i masing-masing tanaman penghasil kalori utama sesuai ketetapan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM), Depkes, 1993.

Untuk luas panen dan hasil produksi pertanian penghasil kalori utama (jagung, padi, umbi-umbian, dan kacang-kacangan), didapat dan bereferensi dari data statistik BPS Provinsi Papua dan Papua Barat mengenai hasil pertanian.

Sedangkan untuk tingkat konsumsi akan bahan penghasil kalori utama, bereferensi dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Ayiek dalam Pola Konsumsi Pangan RumahTangga di Wilayah Historis Pangan Beras dan Non Beras di Indonesia. Dalam Penelitian tersebut, dianalisis bagaimana pola konsumsi pangan (beras dan non-beras) di 3 Provinsi di Indonesia yakni Provinsi Sumatera Barat, Kalimantan Timur dan Papua yang dikaji per tingkat srtata pendapatan (rendah, menengah, dan tinggi). Dalam penelitian tersebut diambil sebanyak 3633 rumahtangga sebagai responden yang tersebar di 3 provinsi tersebut pada tahun 1999. Berikut adalah pola konsumsi pangan (beras dan non-beras) di Provinsi Papua per tingkat strata pendapatan hasil penelitian tersebut.

Jenis Bahan Pangan Strata Pendapatan rata-rata (%)

Tinggi Sedang Rendah
Padi-padian 11.33 16.90 24.48 17.57
Umbi-umbian 2.67 3.31 4.19 3.39
Ikan 8.43 11.67 9.51 9.87
Daging,telur,susu 18.48 15.64 11.61 15.24
Sayur-mayur 9.20 11.09 10.32 10.20
Kacang-kacangan 3.84 4.44 4.83 4.37
Buah-buahan 4.15 4.58 5.21 4.65
Minyak dan lemak 4.33 5.19 6.27 5.26
Bahan Minuman 4.50 6.02 6.78 5.77
Makanan dan minuman jadi 12.50 10.57 9.39 10.82
Makanan dan minuman lainnya 20.57 10.59 7.41 12.86
Total 100.00 100.00 100.00 100.00

(sumber : Ayiek, Sih Sayekti. Pola konsumsi Pangan Rumahtangga di wilayah histories pangan beras dan non beras di Indonesia)

Tabel 1. Pola Persentase Konsumsi di Provinsi Papua per tingkat strata pendapatan.

Dari hasil penelitian tersebut, maka dapat disimpulkan pola konsumsi untuk padi-padian, umbi-umbian, dan kacang-kacangan adalah 25,33% (jumlah dari rata-rata per strata tingkat pendapatan untuk jenis padi-padian, umbi-umbian, dan kacang-kacangan). Nilai 25,33% tersebut digunakan sebagai referensi untuk tingkat konsumsi penduduk (baik untuk provinsi papua maupun papua barat) untuk jenis hasil pertanian penghasil kalori utama yakni padi, kedelai, jagung, kacang tanah, jacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar (termasuk ke dalam padi-padian, umbi-umbian, dan kacang-kacangan).

Sedangkan untuk tingkat konsumsi rata-rata penduduk yakni sebesar 2200 kalori per hari per orang (Depkes RI). Sedangkan untuk data konversi (kalori) jenis komoditas bereferensi dari Handayati Puji Setyo.  2006. Konversi Satuan ukuran Rumah tangga ke dalam satuan berat (gram) Pada Beberapa Jenis Pangan. Dan Direktorat Gizi, Departemen eshatan, RI. 1979. Daftar Kompososi Bahan Makanan.

Dari hasil perhitungan, berikut adalah hasil perhitungan analisis daya dukung lahan per kabupaten yang disajikan dalam bentuk tabel dan pola daya dukung lahan pertanian penghasil kalori utama serta perbandingan antara jumlah penduduk yang mampu didukung atas kebutuhan kalori dari jenis komoditas padi-padian, kacang-kacangan, dan umbi-umbian oleh lahan pertanian di wilayah kajian dengan jumlah penduduk Provinsi Papua dan Papua Barat tahun 2008 yang disajikan dalam bentuk peta (peta 1).

Provinsi Papua Barat Provinsi Papua
Nama Kabupaten Daya Dukung Lahan (jiwa/Ha) Nama Kabupaten Daya Dukung Lahan (jiwa/Ha)
Fak-Fak 43.16 Merauke 60.05
Manokwari 22.93 Jayawijaya 159.27
Kab. Sorong 29.77 Jayapura 77.97
Kaimana 43.16 Nabire 90.45
Kota Sorong 25.18 Yapen Waropen 111.17
Raja Ampat 30.03 Biak Numfor 124.06
Sorong Selatan 25.56 Paniai 163.77
Teluk bintuni 28.56 Puncak Jaya 106.57
Teluk Wondana 30.76 Mimika 118.90
Boven Digoel 175.32
Mappi 117.56
Asmat 175.59
Yahukima 149.46
Pegunungan Bintang 113.88
Tolikara 126.13
Sami 74.68
Keerom 21.66
Waropen 181.00
Kota Jayapura 52.06

( Pengolahan data tahun 2010, sumber data : Badan Pusat Statistik)

Tabel 2. Hasil perhitungan analisis daya dukung lahan pertanian penghasil kalori utama per kabupaten di Pulau Papua (Provinsi Papua Barat dan Papua)

Peta 1. Daya dukung lahan pertanian penghasil kalori utama di Provinsi Papua dan Irian Barat
Peta 2. Daya dukung lahan pertanian penghasil kalori utama di Provinsi Papua dan Irian Barat

Dari peta hasil analisis daya dukung lahan tersebut, dapat terlihat bahwa wilayah barat Pulau Papua memiliki daya dukung yang rendah, kemampuan lahan yang rendah ini disebabkan karena kondisi fisik lahan atau tanah yang kurang baik  atau kurang produktif sehingga hasil pertanian yang dihasilkan dari lahan pertanian tersebut tidak terlalu besar dibandingkan wilayah-wilayah tergolong subur. Untuk lebih menjelaskan hal tersebut, dapat terlihat dari pola produktivitas di wilayah kajian (Pulau Papua) yang disajikan pada peta 3.

Perbedaan nilai produktivitas antar wilayah mencerminkan perbedaan pola kesuburan antar wilayah tersebut, sehingga hasil panen pun juga akan beragam atau terpengaruhi dari tingkat produktivitas lahan itu sendiri. Dari peta produktivitas (peta 3), dapat disimpulkan bahwa wilayah timur Pulau Papua memiliki lahan yang subur dan sangat sesuai untuk lahan pertanian. Tingkat produktivitas yang rata-rata tinggi membuat daya dukung lahan pertanian penghasil kalori utama pun juga tinggi, hal tersebut dapat terlihat pada peta perbandingan jumlah penduduk dengan jumlah penduduk yang mampu didukung (peta 2), beberapa kabupaten-kabupaten di wilayah barat Papua tergolong tidak mampu memenuhi kebutuhan akan pangan dari komoditas/hasil pertanian penghasil kalori utama. Hal tersebut dapat terlihat pada seluruh kabupaten di Provinsi Papua Barat dimana seluruh kabupaten di provinsi tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan kalori akan jenis hasil pertanian seperti padi-padian, umbi-umbian, dan kacang-kacangan (hasil pertanian penghasil kalori utama). Sedangkan untuk wilayah di Provinsi Papua, beberapa kabupaten memiliki nilai daya dukung lahan yang cukup besar dan mampu memenuhi kebutuhan pangan akan komoditas/hasil pertanian penghasil kalori utama, seperti kabupaten Merauke, Jayawijaya, Paniai, Yahukima, dan Waropen.

Wilayah-wilayah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan akan pangan untuk jenis komoditas penghasil kalori utama, maka diperlukan upaya intensifikasi pertanian agar hasil pertanian bisa lebih produktif. Selain itu, perlu pembukaan lahan baru untuk lahan pertanian, hal ini dimaksudkan agar kebutuhan akan hasil pertanian dapat tercukupi di wilayah tersebut.

Gambar 1. Grafik Perbandingan antara jumlah penduduk yang mampu didukung atas konsumsi dari hasil lahan pertanian penghasil kalori utama dengan jumlah penduduk per kabupaten di Provinsi Papua Barat.

Gambar 2. Grafik Perbandingan antara jumlah penduduk yang mampu didukung atas konsumsi dari hasil lahan pertanian penghasil kalori utama dengan jumlah penduduk per kabupaten di Provinsi Papua .

Peta 3. Daya dukung lahan pertanian penghasil kalori utama di Provinsi Papua dan Irian Barat

III. KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah:

  1. Sumber daya alam di wilayah Pulau Papua ini cukup melimpah terutama sumber daya alam mineral dan energi. Untuk Provinsi Papua, Sektor pertambangannya sudah mampu memberikan kontribusi lebih dari 50% perekonomian, dengan tembaga, emas, minyak dan gas menempati posisi yang dapat memberikan kontribusi ekonomi tersebut. Sedangkan untuk Provinsi Papua barat, Kehutanan merupakan sektor non migas yang memberikan kontribusi ekonomi terbesar di provinsi ini dengan luas hutan dan perairannya adalah sekitar 9.769.686,91 Ha.
  2. Dari sektor pertanian cukup berkontribusi di kedua provinsi ini, namun untuk subsektor pertanian penghasil kalori utama (jenis padi-padian, umbi-umbian, dan kecang-kacangan) belum cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduk untuk sebagian besar kabupaten di Pulau papua.

DAFTAR PUSTAKA

Ayiek Sih Sayekti. 2008. Pola Konsumsi Pangan Rumah Tangga di Wilayah Historis Pangan Beras Dan Non Beras Di Indonesia. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian: Departemen Pertanian.

BPS, 2009. Provinsi Papua Dalam Angka Tahun 2009.

BPS, 2009. Provinsi Papua Barat Dalam Angka Tahun 2009.

Direktorat Gizi, Departemen kesehatan, RI. 1979. Daftar Kompososi Bahan Makanan

Handayati Puji Setyo.  2006. Konversi Satuan ukuran Rumah tangga ke dalam satuan berat (gram) Pada Beberapa Jenis Pangan.

Tim Sintesis Kebijakan, 2008. Percepatan Pembangunan Pertanian Di Papua Berbasis Sumber Daya. Bogor: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.

Tola, Thamrin. Dkk. 2007. Analisis Daya Dukung Dan Produktivitas Lahan Tanaman Pangan di Kecamatan Batang Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan. Makassar: Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol.7 No.1 (2007) p:13-22

Nasrul, Besri. Syahza, Almasdi. Daya Dukung Wilayah dan Potensi Pengembangan Industri Hilir Kelapa Sawit di Kabupaten Bengkalis. Riau: Badan Pengkaji Koperasi dan pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Universitas Riau.

.

LAMPIRAN

Peta 4. Potensi batu bara di Pulau Papua

Peta 5. Potensi Hidrokarbon di Pulau Papua

Peta 6. Distribusi sumber daya mineral di Pulau Papua.

Peta. 7. Penggunaan Tanah di Pulau Papua

About these ads

Responses

  1. keren sekali bapak ardi..
    sangat bermanfaat..
    LANJUTKAN!!

  2. Ahirnya ngeblog juga, ayo dukung gerakan ngeblog untuk mempublis masyarakat geo jadi lebih dikenal. Juga lebih dapat memanfaatkan ilmunya, amin

  3. muantap kali tulisan ini,,,,jadi semangat belajar….update terus,,,,,

  4. Bpk, saya sangat tertarik dg tulisan bapak ini. boleh saya bertanya lebih lanjut? apakah rumus daya dukung lahan yg bapak gunakan ini hanya berlaku untuk pertanian? bagaimana klau saya terapkan di daerah pesisir2?
    oia, bagaimana dengan daya tampung, apakah berbeda lag rumusnya?
    trims

  5. sangat luar biasa untuk memajukan papua barat…

    klu bisa haru ambil datanya di maibrat juga. JLU


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: